Browse > Parenting > MARI PAHAMI EMOSI ANAK

MARI PAHAMI EMOSI ANAK

Dalam suatu majelis Rasulullah saw mengingatkan para sahabat-sahabatnya “Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah SWT memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.” Salah seorang sahabat bertanya. “Ya Rasulullah bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?” nabi menjawab. “menerima usahanya walaupun kecil. Memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makaian yang melukai hatinya.” (HR Abu Daud)

Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak-anak yang berperilaku baik, patuh pada orang tua dan pandai bersosialisasi. Lingkungan keluarga memiliki pengaruh dan peran besar dalam pembentukan karakter anak. Keluarga yang saling menyayangi, saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain akan menciptakan kondisi yang memudahkan anak untuk berperilaku baik sesuai harapan kedua orang tuanya.

Kemampuan anak untuk bersosialisasi dan berperilaku baik sesuai  dengan harapan oorang tua dan lingkungan tidak terlepas dengan kemampuan anak mengkomunikasikan perasaanya (emosi). Mengapa emosi ? Ya, ternyata emosi memiliki peran penting terhadap perkembangan anak, khususnya perkembangan sosial anak.

Emosi merupakan bentuk komunikasi anak dengan orang lain. Melalui ekspresi emosi yang ditampilkan anak, maka seorang anak dapat memperlihatkan kebutuhannya, keinginanya, harapannya, dan perasaanya kepada orang lain, khususnya kepada orang tuannya. Anak yang memiliki ketegangan emosi akan mempengaruhi keterampilan motorik anak. Misalnya : saat marah, anak menjadi susah menulis. Selain itu juga akan mempengaruhi kosentrasi dan daya ingatnya. Misalnya: anak yang lagi kesal akan sulit untuk menghafalkan doa-doa pendek, sebaliknya anak yang sedang senang lebih mudah menghafal surat-surat pendek  yang kita ajarkan.

Tingkah laku emosi dipengaruhi oleh penilaian lingkungan sosial mengenai dirinya dan penilaian diri anak terhadap dirinya sendiri. Masih banyak orang tua yang mengkaitkan perasaan tidak menyenangkan  (marah. Menangis, iri) dengan watak anak  yang buruk. Si adik yang iri dengan kakaknya, dianggap memiliki watak “pencemburu”. Sedangkan kakaknya yang berusaha mempertahankan barang yang dimilikinya dikatakan sebagai kakak yang tidak mau mengalah dengan adiknya (egois).

Selain itu orang tua kerap kali menyebut anaknya “nakal” karena sering merusak barang dan menyusahkan orang tuanya. Anak yang terus-menerus dikatakan nakal, akan semakin membat anak memandang bahwa dirinya memang nakal. Ini akan menjadi konsep diri anak. Ketika anak menilai dirinya sebagai ‘aku adalah anak nakal’, maka anak cenderung bertindak ‘nakal’ sesuai konsep dirinya kalau dia benar-benar anak yang ‘nakal’.

Emosi biasanya dikaitkan dengan perasaan marah. Padahal bukan hanya itu, makna emosi lebih luas lagi. Emosi merupakan perasaan seseorang yang ditujukan kepada orang lain atau terhadap sesuatu. Emosi dapat terlihat ketika: anak merasa senang pada sesuatu yang disukainya, anak marah kepada seseorang yang mengganggunya, anak terkejut karena sesuatu yang tidak biasa. Emosi anak sangat mirip dengan orang dewasa. Namun berbeda dari cara berpikir mereka yang masih sederhana.

Anak akan belajar mengekspresikan perasaanya, dari respon dan tanggapan yang diberikan orangtuanya. Seringkali orang tua sangat cepat ‘bereaksi’ terhadap ekspresi emosi anak dengan langsung memberi nasehat, mengomeli, bahkan memarahinya. Saat mengetahui anaknya bertengkar dengan adiknya, orang tua buru-buru melerai dan menasehati anaknya. Anak yang mengeluh bahwa ia tidak suka sarapannya, langsung dinasehati agar segera menghabiskan maknnya tanpa banyak mengeluh. Orang tua kadang kurang bisa menerima emosi tidak menyenagkan yang ditampilkan anak. Seperti pada pernyataan berikut ini: “sudah jangan nangis, anak sholeh itu nggak cengeng lho”, “ah masa gitu aja kamu nggak berani sih!”, “kakak ngalah dong sama adek”. Dan seterunya.

Seorang anak yang mengalami emosi tidak menyenagkan, sebenarnya ia merasa ada sesuatu yang tidak nyaman di dalam dirinya. Perasaan ini akan mempengaruhi perilaku yang ditampilkan anak. Biasanya tampilan perilaku anak yang tampak di mata orang tua adalah perilaku yang dianggap ‘tidak baik’, (misalnya : anak menangis, marah-marah, membentak,merusak barang). Orang tua yang segera menasehati dan memarahi anak, hanya akan membuat anak makin merasa tidak nyaman, malas berbicara dan menghindari orang tua, atau malah makin meletup-letup emosinya.

Anak akan merasa ‘baik’ saat orang tua mau menerima emosinya, menghargai kondisinya, dan memberikan respon yang tepat. Anak hanya ingin perasaanya ‘di akui’. Ketika kita dapat mengakui perasaanya maka anak akan belajar mempercayai perasaannya, termasuk pandai mengatur emosi mereka dan menyelesaikan masalahnya. Pada saat kita berusaha untuk menerima emosinya, mungkin akan membutuhkan beberapa menit untuk bisa membuat anak belajar ‘menenangkan’ perasaannya sendiri. Bila anak sudah merasa ‘tenang’, anak akan lebih mudah untuk berfikir denga jernih mengenai apa yang dirasakan, mengapa ia bisa mengalami perasaan itu, apa yang terjadi denganya, dan bagaimana caranya agar dia bisa menyelesaikan masalahnya.

Kunci sukses untuk bisa melatih anak-anak supaya memiliki kemampuan mengkomunikasikan perasaanya (emosi) denga tepat dan bijak adalah kita belajar berempati mendengarkan anak. (empati berarti ikut merasakan apa yang dirasakan anak).

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua agar menjadi seorang pendengar yang berempati terhadap anak-anaknya, yaitu :

  1. Menggunakan panca indera kita untuk mengamati petunjuk dan isyarat fisik dari emosi anak  (lihat wajahnya, tangannya, suaranya, desahan nafasnya)
  2. Menggunakan imajinasi kita untuk melihat situasi tersebut dari sudut pandang anak (misalnya  : membayangkan bagaimana ya rasanya kalau aku berada di posisi dia)
  3. Menggunakan kata-kata untuk merumuskan kembali dengan cara yang menenangkan dan tidak mengecam. Artinya kita mencoba mengungkapkan kembali apa yang dirasakan anak dengan ungkapan yang tepat (‘ibu lihat kamu lagi kesal banget ya?”)
  4. Membantu anak memberi nama emosi yang mereka rasakan tersebut (misalnya : “kamu kecewa ya bu guru hanya memberi nilai 7 untuk prakaryamu”)
  5. Menggunakan hati untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anak.

Melihat peran emosi pada anak cukup besar terhadap kemampuan sosialisasi, maka dari itu marilah kita sebagai orang tua dan keluarga dapat memberikan dukungan pada anak agar dapat mengkomunikasikan emosinya secara tepat. Agar tumbuh kembang anak dapat berjalan dengan baik dan dengan memahami kondisi anak diharapkan kita dapat bersikap bijak terhadap berbagai kondisi anak. [ Psikolog: Fifi Nurmaningtyas. S.Pi ]


Diposting pada: 2015-09-22, oleh : Admin, Kategori: Parenting
Print BeritaPrint PDFPDF



Ada 0 komentar untuk berita ini
Tinggalkan Komentar

Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.websitekamudong.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas